Kawaki, Memainkan Peran Kelas Menengah Penikmat Kopi

wartakopi.com – Jakarta. Semenjak kopi menjadi gaya hidup masyarakat urban bertumbuhlah pebisnis kopi, mulai dari pemilik kedai kopi, penikmat kopi hingga komentator kopi.

Sebenarnya masih banyak celah bagi orang yang ingin mengeruk rupiah dari komoditas kopi, dari penjual green beanroastery, hingga penjual kopi itu sendiri.

Baca Juga : 4 Kedai Kopi di Kemang Harga di Bawah Gocap

Dari sisi penjual kopi pun masih adalagi celah yang dapat dibisniskan, penjual kopi bubuk, kopi biji (bean)—yang telah di roasting. Dari sini pun masih ada celah bisnis lagi yaitu menjual kopi spesialti dan kopi komersial.

Rico Andropurnomo dan Alma membangun bisnis roastery kopi bernama Kawaki yang berlokasi di Lt. Basement, AKS 56-57, Pasar Santa, Jl. Cipaku 1, Jakarta Selatan. 

Kawaki berasal dari bahasa Toraja yang berarti “Kopi Kita”

Kawaki berasal dari bahasa Toraja yang berarti “Kopi Kita”. Kawaki memainkan bisnisnya yang selama ini belum banyak yang menjamah yaitu bermain dikelas “tengah” antara penjual kopi spesialti dan kopi biasa.

Baca Juga : 4 Lokasi Kedai Kopi Panutan di Kota Bandung

Baik Rico maupun Alma ini sadar betul, bahwa masih banyak penikmat kopi khususnya di Jakarta yang ingin merasakan kopi spesialti tapi tidak kesampainya karena harganya yang tinggi. 

Untuk itu mereka membangun brand Kawaki untuk mengakomodir kebutuhan para penikmat kopi seperti itu. “Kita memainkan peran ini karena memang marketnya besar, tapi mereka masih belum naik ke spesialti karena harganya yang tinggi,” ungkap Rico di kedainya.

Mengakomodir Segmen Pasar

Kawaki memiliki falsafah ke konsumen, semua orang bisa menikmati kopi spesialti dengan harga yang terjangkau.

Dalam mengakomodir segmen tersebut Rico bersama Alma pun sadar betul bahwa mereka itu adalah penikmat kopi yang paham betul akan kualitas kopi yang mereka cecap setiap harinya.

“Mereka sangat memahami kopi. Makanya kami pun tidak mau kompromi lagi untuk urusan kualitas. Jika bean yang kita dapat itu jelek kita langsung kembalikan ke supplier-nya,” terang Ricco.

Baca Juga : Konsumsi dan Tren Kopi di Indonesia Meningkat Perlu Diiringi Edukasi

Memilah bean dengan ketat sudah menjadi standar wajib bagi Kawaki. Memilah dan memilih kopi bukanlah hal sulit, karena mereka hidup di keluarga yang juga pebisnis kopi. 

Orang tua dan kakaknya dibesarkan dalam lingkaran industri kopi Toraja—penghasil kopi bagus di Indonesia, mengajarkan mereka secara detail untuk mensortir kopi yang mereka beli dari para pemasok.

“Ayah saya dekat dengan para petani kopi di Toraja, Kakak saya adalah pebisnis bean kopi, jadi kita tumbuh dan didukung dari keluarga pecinta kopi. Untuk itu memilah bean dengan ketat sudah menjadi kewajiban kami,” tambah Alma.

Kualitas di Bawah Spesialti

Kawaki memainkan peran bisnisnya satu level di bawah kopi spesialti. Caranya, kita melakukan quality control yang ketat.

Kopi spesialti dibelahan bumi mana pun pasti mahal harganya. Karena memang dihasilkan dari biji kopi pilihan baik secara geografis maupun dari bijinya itu sendiri. 

Dan kopi spesialti ini dapat dipastikan memiliki karakter rasa tersendiri. Setiap daerah pasti rasanya akan berbeda. Itu yang membuat kopi ini mahal.

Kawaki memainkan peran bisnisnya satu level di bawah kopi spesialti. “Kami memiliki falsafah ke konsumen, semua orang bisa menikmati kopi spesialti dengan harga yang terjangkau. Makanya kami mengambil kualitas satu level di bawah spesialti,” urai istri Ricco ini.

Baca Juga : Simak 4 Topik Gibah Menarik Seputar Membeli Kopi

Caranya, kita melakukan quality control yang ketat. Hasil kopi dari petani yang tidak lolos masuk dalam kategori spesialti kita sortir kembali lalu kita proses dengan cara yang sama untuk spesialti sehingga hasilnya mendekati kopi spesialti.

Supplier atau pemasok yang asal-asalan pun terseleksi dengan sendirinya. Karena standar kontrol bean yang masuk ke Kawaki tidak asal comot. Hanya supplier kopi yang teliti dan dari daerah originasi masing-masing kopi yang bertahan.

“Sebagai contoh, beberapa hari lalu petani kopi asal Papua ada yang datang sendiri dan membawa contoh bean dari hasil kebun mereka. Bean yang mereka bawa bagus karena sangat selektif untuk dibawa ke kita,” urai Ricco.

Bertahan di Masa Pandemi

Kalwaki dulu menjual antara 400kg per bulan di era new normal ini melonjak menjadi 500 kg per bulan.

Ketika pandemi Covid-19 mulai merontokan persendian ekonomi Indonesia, Kawaki pun termasuk yang terdampak di dalamnya. Ketika para pemilik kedai kopi pada tutup sementara dengan itu pula penghasilan menurun.

Usia mereka yang masih muda pun langsung tanggap akan hal ini. Mereka mengalihkan model bisnisnya dari yang offline menjadi online. Dua marketplace mereka gunakan untuk menjual produknya.

Baca Juga : 4 Mitos Pendekatan Khusus antara Petani dan Perusahaan Roasting Kopi Indonesia

Gegara Covid-19, bisnis Kawaki di bulan Maret dan April sempat turun penjualannya, karena ada PSBB dan toko belum beroperasi, pelanggan pun masih takut untuk beli secara langsung. Tapi ini telah diantisipasi di jalur online. 

Dari penjualan di online grafik naik sampai 50 persen lebih. Kemudian memasuki era new normal dan adaptasi kebiasaan baru justru naik tajam lagi. 

“Kalau dulu kita menjual antara 400kg per bulan di era new normal ini melonjak menjadi 500 kg per bulan,” kata Alma.

Hal ini dapat terjadi karena beberapa kedai yang dulu tutup sekarang sudah mulai buka kembali, kemudian stok kopi mereka habis, ditambah lagi dengan adanya kedai-kedai yang baru muncul. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *