Diplomasi Kopi

Kemenlu Dorong Replantasi dan Diversifikasi Pasar Hadapi Penurunan Produksi Kopi

JAKARTA, WARTAKOPI.com – Kenaikan harga kopi dunia belum mampu menjadi momentum bagi industri kopi Indonesia. Di saat permintaan global meningkat, produksi nasional justru mengalami tekanan akibat rendahnya produktivitas kebun, keterbatasan investasi, hingga dampak perubahan iklim.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan utama dalam pertemuan antara Kementerian Luar Negeri RI dengan pegiat Diplomasi Kopi Indonesia di Jakarta, Kamis (9/7/2026). Pertemuan mempertemukan unsur pemerintah, Dewan Kopi Indonesia (Dekopi), dan pelaku sektor kopi untuk merumuskan langkah memperkuat daya saing kopi nasional.

Baca Juga : Pentingnya Diplomasi Kopi untuk Memperjuangkan Kepentingan Indonesia

Dalam diskusi tersebut, para pegiat kopi menilai Indonesia sedang menghadapi paradoks. Harga kopi internasional terus menguat, tetapi volume produksi domestik belum mampu mengimbangi peluang pasar. Hambatan ekspor, produktivitas kebun rakyat yang menurun, hingga tantangan iklim dinilai menjadi faktor utama.

Selain itu, investasi asing di sektor pengolahan kopi modern juga masih relatif terbatas. Kondisi tersebut dinilai membuat pengembangan hilirisasi belum berjalan optimal, padahal nilai tambah industri kopi sangat bergantung pada pengolahan dan kualitas produk.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan Indonesia masih menjadi produsen kopi terbesar keempat di dunia pada 2024 dengan produksi sekitar 12 juta kantong. Produksi tersebut terdiri atas 2,1 juta kantong kopi arabika dan 9,9 juta kantong kopi robusta.

Sebagian besar robusta berasal dari Sumatra Selatan dan Lampung, sementara pasar ekspor utama masih didominasi Amerika Serikat, Mesir, Malaysia, dan Belgia.

Baca Juga : Bertambahnya Ekspor Kopi Indonesia ke Negara Paman Sam dan Peluang Kerja Sama Komunitas Kopi dengan Diaspora

Meski demikian, pengembangan kopi arabika menghadapi tantangan tersendiri karena sebagian besar ditanam di kawasan pegunungan dengan topografi curam. Kondisi ini menyulitkan mekanisasi, meningkatkan biaya produksi, sekaligus memperbesar risiko kerusakan lingkungan apabila tidak dikelola secara berkelanjutan.

Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah menawarkan tiga prioritas penguatan sektor kopi nasional.

Page: 1 2

Fatoer Doang

Leave a Comment

Recent Posts

Konsistensi Kopi Indonesia Jadi Taruhan Pasar Ekspor Global

JAKARTA, WARTAKOPI.com — Persoalan utama kopi Indonesia untuk memperkuat posisi di pasar global bukan lagi… Read More

1 month ago

Tahun Ini Jogja Coffee Week Perkuat Ekosistem Kopi Lewat Bisnis dan Lelang

YOGYAKARTA, WARTAKOPI.com — Penyelenggaraan Jogja Coffee Week (JCW) 2026 tidak sekadar memperbesar skala pameran. Memasuki… Read More

1 month ago

JCW 2026 Perlihatkan Wajah Baru Industri Kopi Nusantara

YOGYAKARTA, WARTAKOPI.com — Aroma kopi menjadi sambutan pertama bagi pengunjung Jogja Coffee Week (JCW) #6… Read More

1 month ago

Komitmen Keberlanjutan Antar Kadek Seina Maputra Menjadi Juara Barista Starbucks 2026

JAKARTA, WARTAKOPI.com – Konsistensi dalam teknik penyeduhan, ketajaman analisis sensorik, dan pemahaman terhadap keberlanjutan mengantarkan… Read More

3 months ago

Bappenas Siapkan Sekolah Kopi Nusantara, Dorong Kebangkitan Kopi Indonesia

JAKARTA, WARTAKOPI.com – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI Prof. Rachmat Pambudy menegaskan tekad pemerintah… Read More

3 months ago

Digra Coffee: Ruang Kreatif yang Melampaui Budaya Nongkrong di Kota Besar

JAKARTA, WARTAKOPI.com – Di tengah pesatnya pertumbuhan industri kedai kopi, diferensiasi tidak lagi hanya ditentukan… Read More

3 months ago