Andanu Prasetyo : Berupaya Meningkatkan Konsumsi Kopi Indonesia

wartakopi.com – Jakarta. Dalam suatu acara seminar kopi bertema “Kopi Penyangga Bumi” di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Andanu Prasetyo—pemilik usaha Kopi Tuku perlu takut dengan hadirnya kopi asing masuk ke Indonesia.

Takut itu perlu. Sebab untuk waspada agar kopi Indonesia tidak bisa hilang begitu saja. Terkadang, saking nasionalisnya jadi lupa untuk membandingkan kualitas sendiri dengan negara lain. 

“Waspada ini juga perlu guna meningkatkan kualitas produk dalam negeri,” ungkap pria yang akrab disapa Tyo.

Sebagai warga negara Indonesia, Tyo pun ingin memberikan sesuatu yang berharga kepada negeri ini. Salah satunya dari kopi.

“Semenjak tahun 2008 masuk ke industri kopi, saya memiliki keinginan bagaimana caranya jumlah konsumsi kopi di Indonesia terus meningkatkan,” tambahnya.

Riset Kopi

Tyo “Kopi Tuku” melakukan riset untuk meningkatkan jumlah pengkonsumsi kopi di tanah air/lokasi Aspasia Coffe Cikole, Lembang, Bandung.

Dengan meningkatnya jumlah pengkonsumsi kopi, kata Tyo, sama dengan memberikan kesejahteraan para petani kopi di seluruh Indonesia. Sejak tahun 2008 hingga 2015 ia pun melakukan riset hal tersebut di sekitar kedainya di Jakarta.

Dari hasil riset yang ia jalani selama kurun waktu 8 tahun, Tyo pun menemukan 4 tahapan cara agar jumlah pengkonsumsi kopi di Indonesia itu meningkat. Pertama, mendengarkan konsumen. Kedua, memperbaiki apresiasi. Ketiga, memperkuat ekosistem di Indonesia. Keempat, Go Internasional.

Menurut Tyo, mendengarkan konsumen terlebih dahulu itu penting. Sebab, dari tahap ini ia mendapatkan informasi ternyata para pecinta kopi itu mencari harga tidak terlalu mahal.

Selain itu, tambah Tyo, penikmat kopi itu lebih suka mencari kedai kopi yang mudah di akses, dan terakhir ternyata coffee lovers itu suka dengan rasa kopi yang tidak terlalu asam, terus ada rasa sedikit manis.

Hasil Riset

Tyo Pemilik Kopi Tuku membandingkan riset tentang kopinya dengan Kota Yogyakarta dan Kote Melbourne Australia./lokasi Miwiti Coffee Yogyakarta

Dari hasil riset ini, Tyo pun membandingkan dengan penikmat kopi dari Kota Yogyakarta dan Kota Melbourne, Australia. Akhirnya Tyo pun menemukan suatu permasalahan di purchasing power

“Masalah purchasing poweryaitu bagaimana dapat menghadirkan kualitas kopi yang masih bisa diminum, dan konsumen dapat mengkonsumsi 2-3 gelas dalam sehari,” Tyo beberkan hasil risetnya. 

Diakhir perbincangan dengan pelaku industry kopi dari hulu ke Hilir ini, Tyo pun menegaskan untuk meningkatkan konsumsi kopi ini bukan masalah benar atau salah enak atau tidak. Sebab, kopi Indonesia memang memiliki rasa tersendiri. 

“Saatnya kita berbagi tugas, biarkan para petani yang mengurusi budidaya kopi. sedangkan kita sebagai pelaku indsutri tinggal memasarkannya dan bagaimana caranya meningkatkan konsumsi kopi hingga ke level dunia,” pungkas Tyo. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *