Bappenas Siapkan Sekolah Kopi Nusantara, Dorong Kebangkitan Kopi Indonesia
- Replantasi atau peremajaan kebun kopi rakyat yang sudah tua.
- Pemetaan lahan berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) dan citra satelit guna mendukung ketertelusuran produk serta memenuhi regulasi bebas deforestasi Uni Eropa.
- Pembukaan pasar ekspor baru, termasuk Turki, kawasan Timur Tengah, dan Australia.
“Kalau titik-titik ini tidak disambungkan, target ekspor kopi sebesar US$1,5 miliar hanya akan menjadi wacana,” ujar Bagas.
Baca Juga : Tantangan dan Langkah Terpadu Menghadapi Peraturan EUDR Industri Kopi
Mantan Duta Besar RI untuk Slovakia, Djumantoro Purbo, menambahkan bahwa kopi telah terbukti menjadi instrumen diplomasi yang efektif.
Saat bertugas di Slovakia, ia memperkenalkan kopi Indonesia melalui komunitas kopi lokal dan berbagai kegiatan budaya sehingga Indonesia semakin dikenal masyarakat setempat.

Menurutnya, kekuatan kopi Indonesia bukan hanya pada kualitas produknya, tetapi juga keberagaman daerah asal, metode pengolahan seperti giling basah dan petik merah, serta budaya penyajian kopi tubruk.
Ia mengusulkan agar metode penyajian kopi tubruk dapat diusulkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda UNESCO sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.
Baca Juga : Bertambahnya Ekspor Kopi Indonesia ke Negara Paman Sam dan Peluang Kerja Sama Komunitas Kopi dengan Diaspora
Wakil Ketua Dekopi A. Syafrudin menilai tantangan terbesar industri kopi Indonesia berada di sektor hulu.
Menurutnya, produktivitas kebun menurun akibat banyaknya tanaman tua, perubahan iklim, kondisi lahan, serta masih rendahnya perhatian terhadap peningkatan kualitas dan produktivitas.
